Istilah hipermetropia ringan dan mata plus cukup sering terdengar ketika seseorang menjalani pemeriksaan mata. Sebagian orang menganggap keduanya sebagai kondisi berbeda, padahal istilah tersebut pada dasarnya berkaitan erat.
Hipermetropia atau hyperopia merupakan salah satu jenis kelainan refraksi. Pada kondisi ini, cahaya yang masuk ke mata cenderung terfokus di belakang retina ketika mata dalam keadaan tidak berakomodasi. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kesulitan melihat objek dekat secara jelas.
Sementara itu, istilah “mata plus” merupakan sebutan yang umum digunakan masyarakat untuk menggambarkan hipermetropia karena koreksinya menggunakan lensa dengan kekuatan positif atau tanda plus (+).
Meski demikian, mata plus akibat hipermetropia perlu dibedakan dengan presbiopia atau mata tua. Keduanya dapat menyebabkan kesulitan melihat dekat, tetapi memiliki mekanisme yang berbeda.
Apa Itu Hipermetropia Ringan?
Hipermetropia terjadi ketika bentuk atau daya refraksi mata membuat cahaya tidak terfokus tepat pada retina. Salah satu penyebabnya adalah bola mata yang terlalu pendek dari depan ke belakang. Bentuk kornea atau lensa juga dapat memengaruhi kemampuan mata dalam memfokuskan cahaya.
Hipermetropia dapat memiliki derajat yang berbeda. Menurut EyeWiki dari American Academy of Ophthalmology, salah satu klasifikasi menyebut hipermetropia rendah atau ringan berada pada +2,00 dioptri (D) atau kurang. Namun, penilaian kondisi seseorang tetap perlu dilakukan melalui pemeriksaan refraksi oleh tenaga profesional.
Pada hipermetropia ringan, seseorang bahkan mungkin tidak menyadari adanya gangguan penglihatan. Hal ini terutama dapat terjadi pada usia muda karena mata masih memiliki kemampuan akomodasi yang baik.
Mengapa Hipermetropia Bisa Tidak Terasa?
Mata memiliki kemampuan akomodasi, yaitu kemampuan lensa untuk menyesuaikan fokus. Pada orang yang lebih muda, mekanisme ini dapat membantu mengompensasi sebagian hipermetropia sehingga penglihatan masih terasa cukup jelas.
Namun, usaha akomodasi tersebut dapat membuat mata bekerja lebih keras, terutama ketika membaca, menggunakan komputer, atau melihat objek dekat dalam waktu lama.
Keluhan yang dapat muncul antara lain mata terasa lelah atau tegang dan sakit kepala setelah aktivitas melihat dekat. National Eye Institute (NEI) juga mencatat bahwa hipermetropia ringan bisa tidak menimbulkan gejala yang disadari.
Apakah Hipermetropia Ringan Sama dengan Mata Plus?

Secara umum, mata plus merupakan istilah awam yang sering digunakan untuk hipermetropia, khususnya ketika membicarakan ukuran resep kacamata dengan lensa positif.
Sebagai contoh, hasil pemeriksaan refraksi dapat menunjukkan angka positif seperti +0,50 D atau +1,00 D. Namun, angka resep tidak sebaiknya ditafsirkan sendiri karena pemeriksaan mata juga dapat menemukan astigmatisme atau gangguan refraksi lainnya.
Selain itu, istilah mata plus terkadang digunakan masyarakat untuk menyebut kesulitan membaca dekat pada usia lanjut. Padahal, kondisi tersebut bisa merupakan presbiopia.
Hipermetropia dan Presbiopia Tidak Sama
Hipermetropia dan presbiopia sama-sama dapat menyebabkan kesulitan melihat objek dekat, tetapi penyebabnya berbeda.
Hipermetropia berkaitan dengan bagaimana bentuk mata, kornea, atau lensa menyebabkan cahaya terfokus di belakang retina. Kondisi ini dapat ditemukan sejak usia muda.
Sebaliknya, presbiopia berkaitan dengan proses penuaan lensa mata. Seiring bertambahnya usia, lensa menjadi kurang fleksibel sehingga kemampuan untuk memfokuskan objek dekat berkurang. NEI menyebut presbiopia umumnya mulai terjadi setelah usia sekitar 45 tahun.
Karena itu, seseorang yang membutuhkan kacamata baca pada usia pertengahan tidak otomatis mengalami hipermetropia.
Gejala Hipermetropia Ringan yang Perlu Diperhatikan
Gejala hipermetropia ringan dapat berbeda pada setiap orang. Pada sebagian orang, kondisi ini hampir tidak menimbulkan keluhan.
Namun, beberapa tanda dapat muncul terutama setelah melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus dekat dalam waktu lama.
Mata Mudah Lelah
Mata terasa lelah atau tidak nyaman setelah membaca, bekerja di depan komputer, atau menggunakan ponsel dalam waktu lama dapat terjadi pada penderita hipermetropia.
Keluhan tersebut berkaitan dengan usaha mata mempertahankan fokus terhadap objek dekat.
Sakit Kepala Setelah Membaca
Sakit kepala, khususnya setelah aktivitas melihat dekat, juga dapat menyertai hipermetropia. NEI memasukkan sakit kepala ketika membaca dan ketegangan mata sebagai gejala yang dapat ditemukan pada kondisi tersebut.
Objek Dekat Terlihat Kurang Jelas
Keluhan yang paling dikenal adalah objek dekat tampak kabur. Pada hipermetropia yang lebih berat, gangguan penglihatan juga dapat memengaruhi ketajaman melihat pada jarak lainnya.
Bagaimana Hipermetropia Ringan Diperiksa?
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami hipermetropia ringan dan mata plus, pemeriksaan refraksi merupakan langkah penting. Pemeriksaan mata komprehensif dapat membantu menentukan jenis dan tingkat kelainan refraksi yang dialami.
Tenaga profesional dapat melakukan pemeriksaan ketajaman penglihatan serta pengukuran refraksi untuk menentukan koreksi yang sesuai. Pada kondisi tertentu, terutama pada anak atau pasien yang masih memiliki kemampuan akomodasi kuat, pemeriksaan dengan obat tetes untuk mengendurkan akomodasi dapat membantu mengetahui besarnya hipermetropia secara lebih akurat.
Apakah Hipermetropia Ringan Harus Memakai Kacamata?

Tidak setiap kasus hipermetropia ringan membutuhkan penanganan yang sama. Keputusan menggunakan kacamata bergantung pada besar kelainan refraksi, usia, keluhan, kebutuhan visual, dan hasil pemeriksaan.
Pada hipermetropia yang menimbulkan keluhan, kacamata atau lensa kontak dapat digunakan untuk membantu cahaya terfokus dengan lebih tepat pada retina. Kacamata merupakan salah satu cara sederhana dan aman untuk mengoreksi kelainan refraksi.
Karena kebutuhan koreksi setiap orang berbeda, membeli kacamata berdasarkan perkiraan ukuran plus saja sebaiknya dihindari, terutama jika keluhan penglihatan baru muncul atau semakin berat.
Kapan Sebaiknya Memeriksakan Mata?
Pemeriksaan sebaiknya dipertimbangkan apabila penglihatan dekat mulai kabur, mata sering terasa lelah, sakit kepala muncul berulang setelah membaca, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu.
Pemeriksaan juga penting karena keluhan penglihatan kabur tidak hanya disebabkan oleh hipermetropia. Astigmatisme, miopia, presbiopia, maupun kondisi mata lainnya dapat menghasilkan keluhan yang mirip.
Kenali Mata Plus Sejak Dini agar Hipermetropia Tidak Mengganggu Aktivitas
Hipermetropia ringan dan mata plus pada dasarnya memiliki hubungan yang sangat erat. Istilah mata plus umum digunakan untuk menggambarkan kondisi hipermetropia yang dikoreksi menggunakan lensa berkekuatan positif (+). Meski pada tingkat ringan keluhannya terkadang tidak begitu terasa, kondisi ini tetap dapat membuat mata bekerja lebih keras, terutama ketika membaca, menatap layar komputer, menggunakan ponsel, atau melakukan aktivitas dengan jarak pandang dekat dalam waktu lama.
Gejala seperti mata cepat lelah, pandangan dekat terasa kurang tajam, sulit mempertahankan fokus, hingga sakit kepala setelah membaca sebaiknya tidak diabaikan. Keluhan tersebut belum tentu selalu disebabkan oleh hipermetropia karena gangguan refraksi lain juga dapat menimbulkan gejala serupa. Karena itu, pemeriksaan mata diperlukan untuk mengetahui penyebab dan tingkat gangguan penglihatan secara lebih tepat
