Aktinomikosis Bukan Penyakit Menular, tetapi Tetap Perlu Ditangani

Kesehatan, Berita14 Views

Aktinomikosis mungkin belum sepopuler jenis infeksi bakteri lainnya. Meski relatif jarang dibicarakan, kondisi ini tetap perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang menjadi infeksi kronis dan menyerang jaringan tubuh apabila tidak ditangani dengan tepat.

Aktinomikosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri dari genus Actinomyces, terutama Actinomyces israelii. Bakteri tersebut sebenarnya dapat ditemukan secara normal di beberapa bagian tubuh manusia, termasuk mulut, tenggorokan, saluran pencernaan, dan saluran reproduksi perempuan.

Karakteristik tersebut membuat aktinomikosis berbeda dari penyakit infeksi yang mudah berpindah dari satu orang ke orang lain. Infeksi umumnya muncul ketika jaringan mengalami kerusakan atau peradangan sehingga bakteri yang sebelumnya berada di permukaan mukosa dapat masuk ke jaringan yang lebih dalam.

Apa Itu Aktinomikosis?

Aktinomikosis termasuk infeksi bakteri kronis yang dapat berkembang secara perlahan. Bakteri Actinomyces merupakan bakteri anaerob, yakni bakteri yang dapat hidup tanpa membutuhkan oksigen.

Pada kondisi normal, keberadaan bakteri ini tidak selalu menyebabkan penyakit. Masalah dapat muncul ketika penghalang alami jaringan terganggu, misalnya akibat cedera atau kondisi tertentu yang memungkinkan bakteri memasuki jaringan lebih dalam.

Infeksi kemudian dapat memicu terbentuknya abses atau kumpulan nanah, jaringan parut, serta saluran abnormal yang disebut fistula. dapat terjadi pada wajah dan leher, dada, perut, maupun panggul.

Mengapa Aktinomikosis Bukan Penyakit Menular?

Aktinomikosis pada umumnya tidak dianggap sebagai penyakit yang menular dari satu orang ke orang lain melalui interaksi sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan sifat Actinomyces yang merupakan bagian dari flora normal tubuh manusia.

Dengan kata lain, penyakit biasanya berkembang dari bakteri yang sudah berada di tubuh ketika bakteri tersebut memperoleh kesempatan memasuki jaringan yang lebih dalam.

Karena itu, keberadaan seseorang dengan aktinomikosis tidak berarti orang di sekitarnya otomatis berisiko mengalami penyakit yang sama.

Gejala Aktinomikosis Bisa Berbeda-beda

Gejala aktinomikosis bergantung pada lokasi infeksi. Pada bentuk servikofasial yang menyerang area wajah dan leher, dapat muncul pembengkakan keras di sekitar mulut, wajah, leher, atau bagian bawah rahang. Pembengkakan tersebut terkadang terasa nyeri dan dapat mengeluarkan nanah.

Sementara itu, aktinomikosis yang terjadi pada bagian tubuh lainnya dapat menimbulkan keluhan yang berbeda.

Infeksi Dapat Menyerang Beberapa Bagian Tubuh

Pada aktinomikosis abdomen, gejala dapat berupa nyeri perut kronis, demam, muntah, diare atau konstipasi, serta penurunan berat badan. Infeksi pada area dada dapat menimbulkan nyeri dada, demam, batuk berdahak, dan penurunan berat badan.

Ada pula aktinomikosis panggul yang dapat menyebabkan nyeri panggul atau perut bagian bawah, demam, penurunan berat badan, dan keputihan. Bentuk ini antara lain dikaitkan dengan penggunaan jenis alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD) tertentu.

Dalam kasus yang jarang terjadi, bakteri juga dapat menyebar melalui aliran darah dan memengaruhi organ lain, termasuk otak, tulang belakang, hati, ginjal, dan paru-paru.

Mengapa Aktinomikosis Tetap Perlu Ditangani?

Tidak menular bukan berarti aktinomikosis dapat diabaikan. Salah satu karakteristik penyakit ini adalah kemampuannya berkembang secara perlahan dan membentuk abses maupun fistula.

Infeksi bahkan dapat meluas sebelum menimbulkan gejala yang jelas pada beberapa kasus. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan ketika muncul keluhan yang menetap atau tanda infeksi yang tidak kunjung membaik.

Diagnosis Membutuhkan Pemeriksaan Medis

Diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu gejala. Dokter dapat mempertimbangkan ketika menemukan kombinasi abses, jaringan parut, atau fistula yang sesuai dengan karakteristik penyakit.

Konfirmasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan sampel nanah, dahak, atau jaringan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab. Pemeriksaan pencitraan seperti sinar-X atau CT scan juga dapat digunakan untuk membantu mengetahui lokasi dan luas abses pada kondisi tertentu.

Pemeriksaan tersebut penting karena beberapa bentuk aktinomikosis dapat menyerupai kondisi medis lainnya.

Bagaimana Aktinomikosis Diobati?

Penanganan aktinomikosis umumnya menggunakan antibiotik dalam jangka waktu yang relatif panjang. MSD Manual mencatat penisilin merupakan salah satu antibiotik yang lazim digunakan, dengan durasi pengobatan yang dapat berlangsung setidaknya beberapa minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada kondisi pasien dan respons terhadap terapi.

Karena kebutuhan pengobatan dapat berbeda pada setiap pasien, pemilihan antibiotik, dosis, dan lamanya terapi harus ditentukan oleh tenaga medis.

Beberapa Kasus Membutuhkan Tindakan Tambahan

Antibiotik tidak selalu menjadi satu-satunya tindakan. Apabila terbentuk abses, dokter dapat melakukan drainase untuk mengeluarkan nanah. Fistula tertentu juga mungkin membutuhkan tindakan bedah.

Pada aktinomikosis panggul yang berhubungan dengan penggunaan IUD, penanganan dapat melibatkan pelepasan perangkat tersebut disertai terapi antibiotik.

Kabar baiknya, apabila penyakit terdiagnosis sejak dini dan mendapatkan pengobatan yang tepat, sebagian besar pasien dapat pulih dengan baik.

Menjaga Kesehatan Mulut Juga Perlu Diperhatikan

Karena bakteri Actinomyces banyak ditemukan di rongga mulut dan penyakit periodontal dapat menjadi salah satu jalan masuk pada aktinomikosis servikofasial, kesehatan gigi dan mulut menjadi hal yang penting diperhatikan.

Menjaga kebersihan gigi dan mulut serta memeriksakan gangguan gigi yang membutuhkan penanganan dapat menjadi bagian dari pemeliharaan kesehatan secara umum.

Jangan Mengabaikan Benjolan atau Abses yang Menetap

Benjolan, pembengkakan, abses, atau luka yang mengeluarkan cairan dan tidak kunjung membaik sebaiknya tidak didiagnosis sendiri. Keluhan serupa dapat muncul akibat berbagai kondisi sehingga pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Terlebih jika keluhan disertai demam, nyeri berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau gejala lain yang semakin berat.

Aktinomikosis Tidak Menular, tetapi Penanganan Tetap Penting

Aktinomikosis menunjukkan bahwa penyakit infeksi tidak selalu berarti penyakit tersebut mudah ditularkan kepada orang lain. Bakteri penyebabnya dapat hidup secara normal di tubuh dan baru menimbulkan masalah ketika berhasil memasuki jaringan yang lebih dalam.

Meski bukan penyakit yang umumnya menular antarmanusia, tetap membutuhkan perhatian karena dapat menyebabkan abses, fistula, jaringan parut, dan penyebaran infeksi ke jaringan sekitar.

Mengenali gejala dan mendapatkan pemeriksaan medis menjadi langkah penting ketika muncul keluhan mencurigakan. Dengan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai, peluang pemulihan pada umumnya baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *